Ada yang Keropos di Balik Sikap Pamer Kemesraan di Medsos, Simak

Ada yang Keropos di Balik Sikap Pamer Kemesraan di Medsos, Simak - GenPI.co BANTEN
Seseorang yang pamer kemesraan di media sosial. Foto: Elementsenvato

GenPI.co Banten - Selain pamer keberhasilan, media sosial kini jadi tempat pamer kemesraan dengan pasangan. Cukup banyak yang berlomba-lomba menunjukkan kabahagiaan dan keharmonisan kepada teman, keluarga dan bahkan kepada publik atau warga internet (warganet). Tetapi benarkah apa yang mereka tunjukkan benar-benar kebahagiaan? Atau hanya sekedar ilusi?

Sebuah studi di Facebook menunjukkan bahwa orang atau pasangan yang memiliki hubungan yang erat satu sama lain tidak akan mengumbar segalanya di media sosial (medsos). Justru penggunaan medsos berlebihan juga erat kaitannya dengan mental yang kurang sehat yang berdampak buruk pada hubungan antar pribadi penggunanya.

Fakta mencengangkan menyebutkan jika pasangan yang suka pamer kemesraan di medsos cenderung mengisyaratkan mereka sedang mencari pengakuan. Berbeda dengan pasangan yang tidak mengekspos justru membuktikan bahwa mereka bahagia.

BACA JUGA:  Perselingkuhan Belum Ketahuan, Perlukah Mengaku ke Pasangan?

Selain pamer kemesraan, ada kalanya medsos jadi tempat bertengkar dengan pasangan dengan cara mengumbar persoalan, saling sindir dan juga memberikan somasi di medsos. Bahkan ada pertengkaran pasangan di kolom komentar dan disaksikan banyak orang atau netizen yang belum tentu mereka kenal di dunia nyata.

Berbeda dengan cara pasangan yang tidak suka mengumbar kemesraan. Bagi mereka, bertengkar di medsos bukanlah tempat yang tepat. Justru akan mempermalukan dirinya sendiri di depan banyak orang yang menonton pertengkaran.

BACA JUGA:  Diselingkuhi Pasangan? Lakukan 4 Hal Ini Agar Lepas dari Trauma

Tidak pamer bukan berarti Anda tidak memposting foto atau vieo kesesraan bersama pasangan. Anda bisa sekali berbagi momen kebahagiaan di medsos.

Maka dapat disimpulkan bahwa pasangan yang rajin pamer foto mesra di medsos bisa saja benar-benar bahagia. Tetapi siapa tahu kebahagiaan itu ternyata muncul karena banjir likes atau komentar-komentar pujian yang oleh warganet dianggap sebagai ’ relationship goals.

BACA JUGA:  Pacar Defensif Parah, Ini Cara Menanganinya

Sementara hubungan yang sebenarnya belum tentu benar-benar bahagia. Jadi, media sosial tidak bisa dijadikan tolok ukur kebahagiaan sebuah pasangan. Kebahagiaan yang hakiki tidak didapat pada media sosial melainkan dari bagaimana pasangan menghargai waktu dan privasi bersama. (hellosehat

Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News

Berita Selanjutnya